Diberdayakan oleh Blogger.
Free R SnapITC Cursors at www.totallyfreecursors.com
RSS

ASHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ANEMIA



ASHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN ANEMIA


A.    PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah.

B.     PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1.      Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2.      Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3.      Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4.      Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).
  
C.    TANDA DAN GEJALA
1.      Tanda-tanda umum anemia:
a.       pucat,
b.      tacicardi,
c.       bising sistolik anorganik,
d.      bising karotis,
e.       pembesaran jantung.
2.      Manifestasi khusus pada anemia:
a.       Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b.      Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c.       Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

D.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2.      Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a.       Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b.      Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan  total naik, urobilinuria.
c.       Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.
E.     PATHWAYS




 






























 

F.     PENATALAKSANAAN
a.       Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b.      Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c.       Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.

G.    MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1.      Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2.      Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.

H.    TINDAKAN KEPERAWATAN
1.      Perfusi jaringan adekuat
-          Memonitor tanda‑tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
-          Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
-          Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
-          Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
-          Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
-          Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebu­tuhan tubuh.
-          Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2.      Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
-          Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
-          Memonitor tanda‑tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
-          Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala‑gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
-          Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari­ hari sesuai dengan kemampuan anak.
-          Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
-          Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
-          Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam­puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3.      Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
-          Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
-          Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
-          Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
-          Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
  2. Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
  3. Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
  4. Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
  5. FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
  6. Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
  7. ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.









Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

BRONKOPNEUMONIA


Bronkopneumonia

Konsep Dasar

Definisi
Pneumonia merupakan peradangan akut parenkim paru-paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi. (Price, 1995)
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan pertukaran gas setempat. (Zul, 2001)
Bronkopneumonia digunakan unutk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pada bronkopneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. (Smeltzer,2001).

Klasifikasi Pneumonia
Klasifikasi menurut Zul Dahlan (2001) :
Berdasarkan ciri radiologis dan gejala klinis, dibagi atas :
F Pneumonia tipikal, bercirikan tanda-tanda pneumonia lobaris dengan opasitas lobus atau lobularis.
F Pneumonia atipikal, ditandai gangguan respirasi yang meningkat lambat dengan gambaran infiltrat paru bilateral yang difus.
Berdasarkan faktor lingkungan
F Pneumonia komunitas
F Pneumonia nosokomial
F Pneumonia rekurens
F Pneumonia aspirasi
F Pneumonia pada gangguan imun
F Pneumonia hipostatik
Berdasarkan sindrom klinis
F Pneumonia bakterial berupa : pneumonia bakterial tipe tipikal yang terutama mengenai parenkim paru dalam bentuk bronkopneumonia dan pneumonia lobar serta pneumonia bakterial tipe campuran atipikal yaitu perjalanan penyakit ringan dan jarang disertai konsolidasi paru.
F Pneumonia non bakterial, dikenal pneumonia atipikal yang disebabkan Mycoplasma, Chlamydia pneumoniae atau Legionella.

Klasifikasi berdasarkan Reeves (2001) :
a.       Community Acquired Pneunomia dimulai sebagai penyakit pernafasan umum dan bisa berkembang menjadi pneumonia. Pneumonia Streptococal merupakan organisme penyebab umum. Tipe pneumonia ini biasanya menimpa kalangan anak-anak atau kalangan orang tua.
b.       Hospital Acquired Pneumonia dikenal sebagai pneumonia nosokomial. Organisme seperti ini  aeruginisa pseudomonas. Klibseilla atau aureus stapilococcus, merupakan bakteri umum penyebab hospital acquired pneumonia.
c.       Lobar dan Bronkopneumonia dikategorikan berdasarkan lokasi anatomi infeksi. Sekarang ini pneumonia diklasifikasikan menurut organisme, bukan hanya menurut lokasi anatominya saja.
d.      Pneumonia viral, bakterial dan fungi dikategorikan berdasarkan pada agen penyebabnya, kultur sensifitas dilakukan untuk mengidentifikasikan organisme perusak.


Etiologi
Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan  streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

4.      Pathways
Terlampir

5.      Manifestasi Klinis
a.       Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
F Nyeri pleuritik
F Nafas dangkal dan mendengkur
F Takipnea
b.      Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
F Mengecil, kemudian menjadi hilang
F Krekels, ronki, egofoni
c.       Gerakan dada tidak simetris
d.      Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
e.       Diafoesis
f.       Anoreksia
g.      Malaise
h.      Batuk kental, produktif
F Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
i.        Gelisah
j.        Sianosis
F Area sirkumoral
F Dasar kuku kebiruan
k.      Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati

6.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
b.      GDA   : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
c.       Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah   : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
d.      JDL     : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
e.       Pemeriksaan serologi   : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
f.       LED    : meningkat
g.      Pemeriksaan fungsi paru         : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
h.      Elektrolit         : natrium dan klorida mungkin rendah
i.        Bilirubin          : mungkin meningkat
j.        Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka           :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)

7.      Penatalaksanaan
a.       Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur spatum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989).
b.      Pengobatan Umum
1.      Terapi Oksigen
2.      Hidrasi
Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat dehidrasi dilakukan secara parenteral
3.      Fisioterapi
Pendrita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.

8.      Pengkajian
a.       Aktivitas / istirahat
Gejala  : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda  : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
b.      Sirkulasi
Gejala  : riwayat gagal jantung kronis
Tanda  : takikardi, penampilan keperanan atau pucat
c.       Integritas Ego
Gejala  : banyak stressor, masalah finansial
d.      Makanan / Cairan
Gejala  : kehilangan nafsu makan, mual / muntah, riwayat DM
Tanda    : distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor
buruk, penampilan malnutrusi
e.       Neurosensori
Gejala  : sakit kepala dengan frontal
Tanda  : perubahan mental
f.       Nyeri / Kenyamanan
Gejala  : sakit kepala nyeri dada meningkat dan batuk myalgia, atralgia
g.      Pernafasan
Gejala  : riwayat PPOM, merokok sigaret, takipnea, dispnea, pernafasan dangkal, penggunaan otot aksesori, pelebaran nasal
Tanda  : sputum ; merah muda, berkarat atau purulen
Perkusi ; pekak diatas area yang konsolidasi, gesekan friksi  pleural
Bunyi nafas  : menurun atau tak ada di atas area yang terlibat atau nafas Bronkial
Framitus : taktil dan vokal meningkat dengan konsolidasi
Warna  : pucat atau sianosis bibir / kuku
h.      Keamanan
Gejala  : riwayat gangguan sistem imun, demam
Tanda     : berkeringat, menggigil berulang, gemetar, kemerahan, mungkin pada kasus rubeda / varisela
i.        Penyuluhan
Gejala      : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis

II.    Rencana Keperawatan
1.      Diagnosa Perawatan : kebersihan jalan nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan :
Ø  Inflamasi trakeobronkial, pembentukan oedema, peningkatan produksi sputum
Ø  Nyeri pleuritik
Ø  Penurunan energi, kelemahan
Kemungkinan dibuktikan dengan :
Ø  Perubahan frekuensi kedalaman pernafasan
Ø  Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori
Ø  Dispnea, sianosis
Ø  Bentuk efektif / tidak efektif dengan / tanpa produksi sputum
Kriteria Hasil :
Ø  Menunjukkan perilaku mencapai kebersihan jalan nafas
Ø  Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tak ada dispnea atau sianosis
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Kali frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada
§  Auskultasi paru catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas tambahan (krakles, mengi)
§  Bantu pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam
§  Penghisapan sesuai indikasi
§  Berikan cairan sedikitnya 2500 ml/hari
Ø  Kolaborasi
§  Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain
§  Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspetoran, bronkodilator, analgesik
§  Berikan cairan tambahan
§  Awasi seri sinar X dada, GDA, nadi oksimetri
§  Bantu bronkoskopi / torakosintesis bila diindikasikan

2.      Diagnosa Perawatan : kerusakan pertukaran gas dapat dihubungkan dengan
Ø  Perubahan membran alveolar – kapiler (efek inflamasi)
Ø  Gangguan kapasitas oksigen darah
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Dispnea, sianosis
Ø  Takikandi
Ø  Gelisah / perubahan mental
Ø  Hipoksia
Kriteria Hasil :
Ø  Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan
Ø  Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigen
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Kaji frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernafas
§  Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
§  Kaji status mental
§  Awasi status jantung / irama
§  Awasi suhu tubuh, sesui indikasi. Bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam dan menggigil
§  Pertahankan istirahat tidur
§  Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif
§  Kaji tingkat ansietas. Dorong menyatakan masalah / perasaan.
Ø  Kolaborasi
§  Berikan terapi oksigen dengan benar
§  Awasi GDA

3.      Diagnosa Perawatan : pola nafas tidak efektif
Dapat dihubungkan dengan :
Ø  Proses inflamasi
Ø  Penurunan complience paru
Ø  Nyeri
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Dispnea, takipnea
Ø  Penggunaan otot aksesori
Ø  Perubahan kedalaman nafas
Ø  GDA abnormal
Kriteria Hasil :
Ø  Menunjukkan pola pernafasan normal / efektif dengan GDA dalam rentang normal
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan dan ekspansi dada
§  Auskultasi bunyi nafas
§  Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi
§  Observasi pola batuk dan karakter sekret
§  Dorong / bantu pasien dalam nafas dalam dan latihan batuk efektif
Ø  Kolaborasi
§  Berikan Oksigen tambahan
§  Awasi GDA

4.      Diagnosa Perawatan : peningkatan suhu tubuh
Dapat dihubungkan  : proses infeksi
Kemungkinan dibuktukan oleh :
Ø  Demam, penampilan kemerahan
Ø  Menggigil, takikandi
Kriteria Hasil :
Ø  Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan suhu tubuh
Ø  Tidak menggigil
Ø  Nadi normal
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Obeservasi suhu tubuh (4 jam)
§  Pantau warna kulit
§  Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan
Ø  Kolaborasi
§  Berikan obat sesuai indikasi : antiseptik
§  Awasi kultur darah dan kultur sputum, pantau hasilnya setiap hari

5.      Diagnosa Perawatan : resiko tinggi penyebaran infeksi
Dapat dihubungkan dengan :
Ø  Ketidakadekuatan pertahanan utama
Ø  Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun)
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Tidak dapat diterapkan tanda-tanda dan gejala-gejala membuat diagnosa aktual
Kriteria Hasil :
Ø  Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi
Ø  Mengidentifikasikan intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko infeksi
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Pantau TTV
§  Anjurkan klien memperhatikan pengeluaran sekret dan melaporkan perubahan warna jumlah dan bau sekret
§  Dorong teknik mencuci tangan dengan baik
§  Ubah posisi dengan sering
§  Batasi pengunjung sesuai indikasi
§  Lakukan isolasi pencegahan sesuai individu
§  Dorong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang.
Ø  Kolaborasi
§  Berikan antimikrobal sesuai indikasi

6.      Diagnosa Perawatan : intoleran aktivitas
Dapat dihubungkan dengan
Ø  Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Ø  Kelemahan, kelelahan
Kemungkinan dibuktikan dengan :
Ø  Laporan verbal kelemahan, kelelahan dan keletihan
Ø  Dispnea, takipnea
Ø  Takikandi
Ø  Pucat / sianosis
 
Kriteria Hasil :
Ø  Melaporkan / menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan dan TTV dalam rentang normal
Intervensi :
Ø  Mandiri
§  Evaluasi respon klien terhadap aktivitas
§  Berikan lingkungan terang dan batasi pengunjung
§  Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat
§  Bantu pasien memilih posisi yang nyaman untuk istirahat / tidur
§  Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan

7.      Diagnosa Perawatan : Nyeri
Dapat dihubungkan dengan :
Ø  Inflamasi parenkim paru
Ø  Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin
Ø  Batuk menetap
Kemungkinan dibuktikan dengan :
Ø  Nyeri dada
Ø  Sakit kepala, nyeri sendi
Ø  Melindungi area yang sakit
Ø  Perilaku distraksi, gelisah
Kriteria Hasil :
Ø  Menyebabkan nyeri hilang / terkontrol
Ø  Menunjukkan rileks, istirahat / tidur dan peningkatan aktivitas dengan cepat
Intervensi :
Ø Mandiri
§  Tentukan karakteristik nyeri
§  Pantau TTV
§  Ajarkan teknik relaksasi
§  Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.

8.      Diagnosa Perawatan : resti nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Dapat dihubungkan dengan :
Ø Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi
Ø Anoreksia distensi abdomen
Kriteria Hasil :
Ø Menunjukkan peningkatan nafsu makan
Ø Berat badan stabil atau meningkat
Intervensi :
Ø Mandiri
§  Indentifikasi faktor yang menimbulkan mual atau muntah
§  Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin
§  Auskultasi bunyi usus
§  Berikan makan porsi kecil dan sering
§  Evaluasi status nutrisi

9.      Diagnosa Perawatan : resti kekurangan volume cairan
Faktor resiko :
Ø Kehilangan cairan berlebihan (demam, berkeringan banyak, hiperventilasi, muntah)
Kriteria Hasil :
Ø Balance cairan seimbang
Ø Membran mukosa lembab, turgor normal, pengisian kapiler cepat
Intervensi :
Ø Mandiri
§  Kaji perubahan TTV
§  Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa
§  Catat laporan mual / muntah
§  Pantau masukan dan keluaran, catat warna, karakter urine
§  Hitung keseimbangan cairan
§  Asupan cairan minimal 2500 / hari
Ø Kolaborasi
§  Berikan obat sesuai indikasi ; antipirotik, antiametik
§  Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

10.  Diagnosa Perawatan : kurang pengetahuan mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan
Dapat dihubungkan dengan :
Ø  Kurang terpajan informasi
Ø  Kurang mengingat
Ø  Kesalahan interpretasi
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Permintaan informasi
Ø  Pernyataan kesalahan konsep
Ø  Kesalahan mengulang
Kriteria Hasil :
Ø  Menyatakan permahaman kondisi proses penyakit dan pengobatan
Ø  Melakukan perubahan pola hidup
Intervensi
Ø  Mandiri
§  Kaji fungsi normal paru
§  Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit, lamanya penyembuhan dan harapan kesembuhan
§  Berikan dalam bentuk tertulis dan verbal
§  Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif
§  Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik selama periode yang dianjurkan.

 
DAFTAR PUSTAKA

Pasiyan Rahmatullah (1999), Geriatri : Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Editor : R. Boedhi Darmoso dan Hadi Martono, Jakarta, Balai Penerbit FKUI 
Doenges, Marilynn (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.
Smeltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume I, Jakarta : EGC
Suyono, (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Reevers, Charlene J, et all (2000). Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta : Salemba Medica.
Lackman’s (1996). Care Principle and Practise Of Medical Surgical Nursing, Philadelpia : WB Saunders Company.








Read More..
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS